GOSUMENEP.COM – Warga Sumenep kini memiliki alternatif baru untuk berbelanja dan berwisata kuliner setiap akhir pekan. Pasar Kebun, yang terletak di Desa Saroka, Kecamatan Saronggi, Sumenep, dibuka setiap hari Minggu dari pukul 07.00 – 14.00 WIB.
Pasar ini menawarkan beragam produk lokal, mulai dari makanan tradisional, seperti Kocor Kuah, Lontong Sate dengan bumbu kacang yang khas, serta Cindul yang manis dan lembut, cocok untuk camilan pagi hari.
Tak hanya itu, ada juga Katemel (olahan singkong tradisional), Lanon (jajanan berbahan beras ketan), Kacenel, pisang rebus khas Madura yang dikenal sebagai Geddeng Kolop, dan juga Pattola, hidangan berkuah manis yang menggugah selera yang jarang ditemui di pasar modern, sehingga menjadi magnet bagi pecinta kuliner tradisional.
Owner Pasar Kebun Sumenep, Fajar Siddiq mengatakan, hari Minggu sebagai satu-satunya waktu beroperasinya Pasar Kebbun bukanlah keputusan tanpa makna. Ia merupakan sebuah gestur simbolik sekaligus bentuk kritik yang lahir dari kegelisahan generasi muda terhadap praktik liberalisasi ekonomi yang telah menimbulkan dampak serius, seperti kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial yang semakin mencolok.
Para leluhur telah lebih dulu merumuskan sistem ekonomi yang berlandaskan pemerataan dan keberlanjutan. Tradisi pasar bergilir seperti pasar Pon, Wage, Legi di Jawa, Pasar Minggu, Pasar Senin di Jakarta, hingga Sattoan (Sabtu) di Kalianget dan Salasaan (Selasa) di Bluto di Sumenep, menjadi bukti bahwa konsep distribusi sumber daya secara merata telah mengakar kuat dalam budaya lokal.
“Terinspirasi dari sistem tersebut, Pasar Kebbun pun hadir setiap hari Minggu bukan hanya sebagai tempat bertransaksi, tapi sebagai ruang perenungan dan perlawanan yang halus terhadap arus dominan ekonomi modern,” ujarnya, Selasa (22/4/2025).
Melalui konsep ini, pasar kebun ingin menghidupkan kembali semangat distribusi sumber daya yang adil, di mana masyarakat dari berbagai lapisan dan daerah dapat saling terhubung dan memenuhi kebutuhannya secara setara.
Pasar Kebbun juga lahir dari keresahan terhadap degradasi lingkungan yang diakibatkan oleh pola konsumsi massal dan industrialisasi pasar modern.
Lebih lanjut Fajar memaparkan, lebih dari sekadar pasar, Pasar Kebbun adalah ruang kolaborasi lintas generasi. Pemerintah desa, masyarakat Saroka, pelaku UMKM, dan para pemuda-pemudi bekerja sama dengan semangat gotong royong untuk membangun dan merawat ruang ini.
“Kami berharap, hadirnya Pasar Kebbun dapat menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga nilai-nilai tradisi, merawat kearifan lokal, dan tidak begitu saja hanyut dalam derasnya arus budaya asing yang membawa wajah baru kapitalisme,” ungkapnya.
Dengan adanya Pasar Kebbun setiap hari Minggu, diharapkan bisa meningkatkan geliat ekonomi lokal sekaligus menjadi destinasi rutin bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga (*)













Pasar Kebbun menawarkan beragam produk lokal yang sangat menarik untuk dicoba. Kuliner tradisional seperti Kocor Kuah dan Lontong Sate mampu memanjakan lidah dengan cita rasa khasnya. Selain itu, ada juga berbagai jajanan unik seperti Katemel dan Pattola yang sulit ditemukan di pasar modern. Keberadaan Pasar Kebbun setiap hari Minggu mencerminkan bentuk perlawanan terhadap sistem ekonomi modern yang destruktif. Bagaimana cara Pasar Kebbun dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kearifan lokal?
Pasar Kebun ini menawarkan berbagai produk lokal yang sangat menarik, mulai dari makanan tradisional hingga jajanan khas yang sulit ditemukan di pasar modern. Konsep pasar ini tidak hanya sekadar tempat berdagang, tetapi juga sebagai ruang untuk merenungkan dan melawan arus dominan ekonomi modern. Melalui gotong royong, masyarakat lintas generasi berkolaborasi untuk menjaga nilai tradisi dan kearifan lokal. Apakah konsep seperti ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan?