GOSUMENEP.COM – Sumenep memiliki banyak peninggalan sejarah yang mencerminkan kejayaan masa lalu. Salah satu warisan budaya yang menarik untuk dikenang adalah keris pusaka jenis kellingan yang diyakini dibuat pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo.
Keris ini bukan sekadar senjata tradisional, tetapi juga sarat makna filosofi dan spiritual bagi masyarakat Madura.
Panembahan Sumolo merupakan salah satu penguasa penting di wilayah Sumenep pada abad ke-18. Ia memerintah cukup lama, yakni sejak tahun 1762 hingga 1811 atau sekitar 49 tahun.
Pada masa kepemimpinannya, pusat pemerintahan dipindahkan ke wilayah yang kini menjadi pusat kota, tepatnya di Desa Pajagalan.
Di era pemerintahannya, tata kota Sumenep dirancang dengan konsep poros lurus yang menghubungkan keraton, alun-alun, hingga masjid.
Konsep tata kota ini menjadi ciri khas perencanaan kota pada masa tersebut. Arsitekturnya juga unik karena memadukan unsur budaya Jawa, Madura, Tionghoa, dan Eropa.
Salah satu peninggalan penting dari masa itu adalah pembangunan Masjid Jamik Sumenep. Masjid yang megah ini memiliki ciri khas warna kuning dengan perpaduan arsitektur Tiongkok dan Eropa, menjadikannya salah satu ikon sejarah dan religi di Sumenep hingga saat ini.
Selain dikenal sebagai pembangun kota, Panembahan Sumolo juga dikenal piawai dalam diplomasi dengan VOC atau Perusahaan Hindia Timur Belanda.
Hubungan diplomatik tersebut membuat masa pemerintahannya relatif stabil serta membawa perkembangan dalam bidang ekonomi dan kebudayaan.
Di tengah stabilitas itu pula berkembang berbagai karya budaya, termasuk pembuatan keris pusaka. Salah satunya adalah keris dengan dhapur Jaka Lola yang termasuk dalam kategori keris kellingan atau keleng.
Keris jenis ini memiliki bilah polos berwarna hitam tanpa motif pamor yang menonjol. Keindahannya tidak terletak pada corak, melainkan pada kualitas besi tempa serta kekuatan makna spiritual yang terkandung di dalamnya.
Dhapur Jaka Lola sendiri merupakan bentuk keris lurus dengan ciri sederhana dan minim ricikan. Biasanya hanya terdapat pejetan dengan bagian tengah bilah yang tampak agak tinggi hingga ke ujung, sering disebut menyerupai “gleger sapi”.
Bentuk ini melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan kejujuran. Secara filosofi, kata “Jaka” berarti pemuda yang menggambarkan semangat muda, kreatif, dan penuh energi.
Sementara “Lola” berarti sendiri, melambangkan kemandirian serta keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan. Karena itu, keris dhapur Jaka Lola sering dimaknai sebagai pusaka yang mengajarkan pemiliknya untuk teguh, percaya diri, dan mampu berjuang tanpa bergantung kepada orang lain.
Dalam tradisi spiritual Jawa dan Madura, keris kellingan seperti ini sering dianggap sebagai pusaka piandel atau pegangan hidup. Nilai yang terkandung di dalamnya mengajarkan ketulusan, keikhlasan, serta keteguhan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Filosofi tersebut juga selaras dengan prinsip hidup nrima ing pandum, yaitu menerima keadaan dengan lapang hati namun tetap berusaha dengan sungguh-sungguh.
Warisan keris dari masa Panembahan Sumolo ini menjadi bukti bahwa kebudayaan Sumenep tidak hanya tercermin dalam bangunan bersejarah, tetapi juga dalam pusaka tradisional yang menyimpan nilai filosofi, spiritualitas, dan kearifan lokal yang masih dihargai hingga kini (*)
Penulis : Helmi Art Sumenep












